Home  /  Wisata Bali  / 3 Desa Tradisional Di Bali – Pesona Desa Yang Menawan

3 Desa Tradisional Di Bali – Pesona Desa Yang Menawan


3 Desa Tradisional Di Bali – Pesona Desa Yang Menawan

Pulau Bali tidak hanya mempunyai beberapa pantai yang indah. Di Pulau Seribu Pura ini, wisatawan juga bisa mengunjungi 3 desa tradisionalnya yang masih menjalankan peraturan dan adat istiadat yang diwariskan dari para leluhur.

Perkembangan peradaban manusia dengan gaya hidup yang semakin modern, seolah-olah tidak begitu berpengaruh terhadap pola hidup penduduk yang bermukim di 3 desa tradisional tersebut.

Oleh karena itu, 3 desa tradisional di Bali ini termasuk dalam kategori Desa Bali Aga. Kehidupan mereka terkesan begitu sederhana. Masyarakatnya sangat ramah sehingga asyik untuk diajak berkomunikasi.

Berikut 3 desa tradisional di Bali :

desa tenganan1. Desa Tenganan Pegeringsingan

Desa Tenganan Pegeringsingan terletak di kecamatan Manggis, kab. Karangasem. Lokasi desa ini hanya berjarak sekitar 6 km dari obyek wisata Candidasa.

Apabila wisatawan menggunakan kendaraan bermotor, perjalanan dari Candidasa menuju ke Desa Tenganan Pegeringsingan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 25 menit.

Akan tetapi, jika wisatawan berangkat dari bandara Ngurah Rai, dibutuhkan waktu lebih dari 1 jam untuk menuju ke desa ini dengan jarak tempuh sekitar 70 km.

Desa Tenganan Pegeringsingan atau biasa disebut dengan nama Desa Tenganan adalah sebuah desa yang masih menerapkan peraturan serta adat istiadat leluhur. Penduduk desa mengenal peraturan tersebut dengan nama awig-awig.

Berikut beberapa ciri khas Desa Tenganan Pegeringsingan :
  1. Sampai dengan saat ini, penduduk Desa Tenganan masih mempertahankan bentuk & ukuran bangunan, luas perkarangan, posisi bangunan, dan lokasi untuk pembangunan pura.
  2. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terkadang mereka masih menerapkan sistem barter.
  3. Ada sebuah peraturan dimana warga desa hanya menikah dengan sesama penduduk desa. Jika ada yang melanggar peraturan tersebut, maka tidak diizinkan untuk menetap dan menjadi penduduk Desa Tenganan.
  4. Terdapat sebuah tradisi yang digelar selama 1 bulan sebanyak 2 hingga 4 kali. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Mekare-kare (perang pandan). Sesuai dengan namanya, senjata yang digunakan pada perang ini adalah pandan berduri dengan panjang kurang lebih 30 cm. Selain senjata tersebut juga disediakan tameng yang berfungsi untuk melindungi serta menangkis setiap serangan.

Hanya kaum pria yang diperbolehkan untuk ikut menjadi peserta tradisi Mekare-kare. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, berusaha untuk melancarkan serangan pada saat bertarung. Tentunya pertarungan tersebut ada aturannya. Setiap orang akan bertarung dengan lawan yang sepadan seperti sebuah duel satu lawan satu.

  1. Desa Tenganan terkenal dengan kerajinan tenunnya yang unik. Hasil dari pertenunan tersebut adalah sebuah kain yang menggunakan teknik ikat ganda. Kain tersebut dikenal dengan nama kain Gringsing. Untuk membuat selembar kain Gringsing dibutuhkan waktu sekitar 3 tahun. Oleh karenanya, kerajinan ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi.

3 desa tradisional di bali2. Desa Trunyan

Desa Trunyan merupakan sebuah desa tua yang berada di Kabupaten Bangli, Bali. Adat istiadat warisan dari nenek moyang penduduk Desa Trunyan masih diterapkan sampai dengan saat ini.

Salah satu tradisi tersebut adalah tata cara penguburan mayat. Mayat di Desa Trunyan akan dibungkus dengan menggunakan kain lalu diletakkan di atas tanah.

Agar mayat tersebut terlindungi dari binatang buas, maka jenazah tersebut akan dikelilingi oleh “ancak saji”. Ancak Saji adalah anyaman yang terbuat dari bambu.

Walaupun mayat tersebut tidak dikubur di dalam tanah, namun tidak mengeluarkan bau. Hal ini disebabkan karena keberadaan pohon taru menyan yang tumbuh di lokasi pemakaman, sehingga dapat menghilangkan bau dari mayat.

Akan tetapi, tidak semua penduduk bisa dimakamkan di pemakaman utama. Apabila ada bayi yang meninggal dunia, maka akan dimakamkan pada sebuah lokasi yang bernama Sema Muda.

Sedangkan untuk penduduk desa yang meninggal dikarenakan sesuatu yang tidak wajar seperti kecelakaan dan dibunuh, maka akan dimakamkan pada sebuah tempat yang bernama Sema Brantas.

Semuanya ini telah diatur sesuai dengan kaidah yang berlaku di Desa Trunyan. Pemakaman utama hanya untuk orang yang telah cukup umur, sudah menikah, remaja atau anak kecil yang gigi susunya telah tanggal, dan meninggal secara wajar.

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Desa Trunyan, jika awal perjalanan dimulai dari kota Denpasar, maka wisatawan harus menempuh jarak sekitar 67 km dalam waktu kurang lebih 2 jam.

Namun, 67 km yang dilalui tersebut baru sampai di wilayah Penelokan. Wisatawan bisa berisitirahat sebentar di tempat ini, untuk menikmati beberapa jajanan khas penduduk setempat sembari menyaksikan keindahan panorama alam Kintamani.

Dari Penelokan wisatawan bisa melewati jalan darat untuk menuju ke Desa Trunyan yang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit. Selain jalan darat, wisatawan juga bisa menggunakan perahu motor untuk menuju ke Desa Trunyan.

Perahu tersebut telah bersandar di dermaga Kedisan. Tarif sewa perahu motor sekitar 500 ribu rupiah. Dengan tarif tersebut, telah termasuk biaya antar jemput dan jasa pemandu wisata.

desa sembiran3. Desa Sembiran

Desa Sembiran berlokasi di kec. Tejakula, Kabupaten Buleleng. Penduduknya masih tetap mempertahankan adat istiadat yang berlaku di desa ini.

Selain itu, di tempat wisata ini wisatawan dapat menjumpai beberapa perabotan kuno yang telah berumur ratusan ribu tahun seperti batu yang berwujud seperti setrika, alat pemotong dari batu, batu berbentuk kapak, batu-batu kecil yang berfungsi untuk mengiris, dan lain-lain.

Disamping itu, di Desa Sembiran juga ditemukan 10 lembar prasasti perunggu dan terbagi menjadi 6 golongan. Prasasti-prasasti tersebut berisi tentang peraturan-peraturan yang dibuat oleh raja atau ratu pada masa lalu, dan berlaku untuk wilayah Desa Julah, Desa Sembiran dan sekitarnya.

Please Share :

Related Post


Keindahan Bukit Jambul – Sebuah Persinggahan Sebelum ke Pura Besakih
Keindahan Bukit Jambul – Sebuah Persinggahan Sebelum ke Pura Besakih

Berada pada ketinggian 500 meter di atas permukaan laut, Bukit…

Obyek Wisata Candidasa – Pesona Wisata Unik di Pulau Bali
Obyek Wisata Candidasa – Pesona Wisata Unik di Pulau Bali

Jika wisatawan menginginkan suasana pantai yang tenang serta memiliki pesona…

Wisata Monkey Forest – Cagar Alam Bagi 340 Ekor Monyet di Ubud
Wisata Monkey Forest – Cagar Alam Bagi 340 Ekor Monyet di Ubud

Obyek wisata Monkey Forest berlokasi di daerah Ubud. Tempat ini…

Pulau Penyu Bali – Pusat Konservasi Penyu di Pulau Bali
Pulau Penyu Bali – Pusat Konservasi Penyu di Pulau Bali

Tanjung Benoa tidak hanya terkenal dengan pantainya yang indah, dan…





Add Comment


Your email address will not be published. Required fields are marked *